Sistem Digesti dan Sistem Reproduksi Ayam

Fakultas Caravan UGM jurusan peternakan

Materi

Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum system digesti dan reproduksi antara lain timbangan camry dengan ketelitian sebesar 1 gram dan kapasitasnya sebesar 5 kg, pisau scapel dari surgical Blade, gunting dari JMC Jafan, pita ukur merk Butterfly, kaca tebal sebagai alas, dan plasti bening untuk alas agar tidak kotor.

Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktilkum system digesti dan reproduksi yaitu ayam layer afkir berumur kurang lebih 72 minggu yang telah disembelih tapi masih utuh, dengan berat badan 1.514 gram.

 

Metode

Ayam yang telah dipotong dibedah lalu dikeluarkan seluruh organ pencernaan dan reproduksinya (jangan sampai putus). Kemudian diletakkan di atas alas kaca, diatur secara utuh dan digambar, setelah itu diukur panjang perbagian, kemudian dipotong perbagian, dikeluarkan kotorannya, lalu ditimbang dan dicatat berat masing-masing organ.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh praktikan diperoleh data pengukuran Sistema Digesti Ayam dapat dilihat  pada tabel 1.

 

Tabel 1. Data pengukuran Sistema Digesti Ayam

Parameter Ayam A Ayam B
Panjang (cm) Berat (gram) Panjang (cm) Berat (gram)
Oesophagus

Crop

Proventriculus

Gizzard

Usus halus

-    Duodenum

-    Jejunum

-    Illeum

Coecum

Usus besar

Kloaka

21

 

4

 

132

24

52

56

31

9

20

10

7

30

 

11

20

11

8

5

4

11

8

11

 

108

23

28

51

30

10

10

8

35

5

42

 

11

19

10

4

5

4

.

 

Data hasil pengukuran organ tambahan digesti ayam pada saat praktikum  dapat dilihat pada tabel 2.

 

Tabel 2. Data pengukuran Organ Tambahan Digesti Ayam

Parameter Ayam A Ayam B
Panjang (cm) Berat (gram) Panjang (cm) Berat (gram)
Hati

Pancreas

Limfa

  30

15

3

  31

14

3

 

Data hasil pengukuran Sistem Reproduksi Ayam Betina pada saat praktikum dapat dilihat pada tabel 3.

 

Tabel 3. Data Pengukuran Sistem Reproduksi Ayam Betina

Parameter Ayam A Ayam B
Panjang (cm) Berat (g) Panjang (cm) Berat (g)
Ovarium + ovum

Infudibulum

Magnum

Isthmus

Uterus

vagina

 

5

27

18

4

3

6

1

7

8

7

4

 

12

30

9

6

2,5

11

1

8

2

7

2

Pembahasan

Data yang diperoleh dari ayam A dan ayam B pada tabel data pengukuran sistema digesti ayam, dapat diketahui beberapa hal. Panjang dan berat saluran pencernaan pada ayam A dan ayam B tidaklah sama. Faktor penyebabnya adalah adanya perbedaan aktivitas pencernaan makanan pada masing-masing ayam dan umur ayam. Sehingga sistem digesti ayam berbeda-beda baik bentuk, ukuran, ataupun besar dari tiap bagian. Ukuran panjang, tebal dan bobot berbagai saluran pencernaan unggas bukan merupakan besaran yang statis. Perubahan dapat terjadi selama proses perkembangan karena dipengaruhi oleh jenis ransum yang diberikan (Amrullah, 2003).

Oesophagus. Oesophagus merupakan saluran memanjang berbentuk seperti tabung sebagai jalan makanan dari mulut sampai permulaan tembolok dan perbatasan pharynx pada bagian atas dan proventikulus bagian bawah.Dinding dilapisi selaput lendir yang membantu melicinkan makanan menuju tembolok,ketika ayam menelan secara otomatis oesophagus menutup dengan adanya otot. Fungsi oesophagus adalah menyalurkan makanan ke tembolok (Campbell, 2004). Menurut Neil (1991). Kisaran normal panjang oesophagus adalah 20 cm sampai 25 cm dengan berat 5 sampai 7,5 gram. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diperoleh panjang oesophagus untuk ayam A dan ayam B adalah 21 cm dan 11 cm sedangkan beratnya oesophagus ayam A dan ayam B adalah 20 gram dan 8 gram. Pada ayam A panjangnya berada pada kisaran normal sedangkan pada ayam B berada dibawah normal, dan pada beratnya ayam B beada pada kisaran normal sedangkan pada ayam A melebihi kisaran normal.

Crop (tembolok). Crop (tembolok) yang merupakan pembesaran dari oesofagus yang berfungsi sebagai penampung sementara makanan sementara sebelum diproses selanjutnya (Fadilah, 2005) Pada tembolok terdapat syarat yang berhubungan dengan pusat kenyang dan lapar di hipothalamus, sehingga banyak sedikitnya pakan yang terdapat dalam tembolok akan memberikan respon pada syaraf untuk makan atau menghentikan makan. Data yang diperoleh pada saat praktikum adalah panjang crop untuk ayam A dan ayam B berturut-turut 10 cm dan 8 cm dengan berat 10 gram dan 35 gram. Kisaran normal panjang crop yaitu antara 7 cm sampai 10 cm dengan berat 8 gram sampai 12 gram (Neil, 1991). Terdapat  perbedaan berat crop dari hasil penimbangan dengan literatur, hal ini disebabkan umur, jenis, pakan dan bangsa (yuwanta, 2004).

Proventriculus. Proventiculus memiliki pH 4 yang berarti bersifat asam dan memiliki dinding halus, panjangnya adalah 7 cm dengan berat 6 gram (Frandson,1992). Hasil Praktikum, ayam A panjang 4 cm dan ayam B panjangnya 8 cm. Perbedaan antara pengukuran dan literatur dikarenakan faktor umur, bangsa ternak dan genetik. Proventiculus merupakan perbesaran terakhir dari oesophagus dan juga merupakan lambung sejati dari ayam. Karena makanan berjalan cepat dalam jangka waktu yang pendak didalam proventikulus, maka pencernaan pada material makanan secara enzimatis sangat sdikit terjadi. Proventriculus berfungsi sebagai penghasil pepsin, yaitu enzim pengurai protein dan penghasil asam lambung (hydrocloric acid) (Fadilah, 2005).

Gizzard. Gizzard memiliki otot yang kuat dan permukaan yang tebal, berfungsi sebagai pemecah makanan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (Fadilah et al., 2007). Gizzard sering disebut pula dengan empedal, perut muskular dan ventrikulus. Fungsi utama empedal adalah melumatkan pakan dan mencampur dengan air menjadi pasta yang dinamakan chymne. Ukuran dan kekuatan empedal dipengaruhi oleh kebiasaan makan ayam tersebut. Gizzard mensekresikan coilin yang berfungsi melindungi permukaan empedal terhadap kerusakan yang mungkin disebabkan oleh pakan atau zat lain yang tertelan (Yuwanta, 2004). panjang Gizzard pada ayam A dan ayam B berturut-turut 30 cm dan 42 cm. Hal yang mempengaruhi panjang ventriculus yaitu ukuran ayam, jenis pakan  dan strain ayam. Semakin besar ayam, semakin besar pula ukuran ampelanya. Jenis pakan berpengaruh pula pada kekuatan gizzard dalam mencerna pakan dengan bantuan batuan grit.

Usus Halus (Small Intestinum). Usus halus dibagi menjadi tiga yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Usus halus memiliki panjang 19 cm dan memiliki dinding halus, enurut Frandson duodenum memiliki panjang 41 cm. Menurut Tillman (1991), ileum memiliki panjang 32 cm yang menghubungkan dengan usus besar.  Data yang diperoleh hasilpraktikum ayam A panjang duodenum, jejunum dan ileum beruturut-turut 24 cm, 52cm dan 56 cm sedangkan panjang dari ayam B berturut-turut adalah 23 cm, 51 cm, dan 30 cm. Perbedaan ukuran tersebut disebabkan oleh aktivitas , banyaknya pakan yang dikonsumsi, perbedaan umur ayam dan ukuran tubuh ayam yang digunakan untuk praktikum.

Coecum. Panjang coecum ayam A adalah 15,5 cm dengan berat 8 gram, sedangkan untuk ayam B panjangnya 10 cm dengan berat 4 gram. Menurut Swenson (1993), panjang coecum adalah 17,5 cm. Menurut Fadilah (2005), coecum ayam dewasa berukuran panjang 15 cm. Menurut Akoso (1998), panjangnya antara 10 sampai 15 cm. Jadi ukuran  coecum ayam A dan ayam B berada dalam kisaran normal, sesuai literatur. Yang mempengaruhi panjang-pendeknya atau besar kecilnya coecum antara lain ukuran tubuh ayam, umur ayam dan pakan yang dikonsumsi ayam. Pada bagian coecum pula digesti serat kasar dilakukan oleh bakteri pencerna serat kasar (Yuwanta, 2000).

Usus Besar. Usus besar memiliki pH 6 (Tillman, et al.1991) ayam A mempunyai panjang 9 cm dengan berat 5 gram, sedangkan pada ayam B mempunyai panjang 8 cm dengan berat 5 gram. Menurut Fadilah et al (2007), panjang usus besar ayam dewasa 10 cm. Usus besar berfungsi sebagai penambah kandungan air dalam sel tubuh dan memberikan keseimbangan air dalam tubuh ayam (Fadilah et al., 2007).

Kloaka. Kloaka merupakan lubang akhir dari muara tiga saluran, cuprodeum merupakan saluran pencernaan, urodeum merupakan saluran urine dan protodeum merupakan saluran pembuangan reproduksi. Untuk ayam A mempunyai  berat 4 gram dan ayam B mempunyai berat 8 gram. Perbedaan berat  disebabkan ukuran ayam dan umur ayam.

Perbedaan panjang dan berat organ-organ pencernaan pada ayam dalam praktikum maupun literatur dipengaruhi oleh umur, kesehatan ayam, strain ayam dan pakan (Blakely and bade, 1998). Sehingga walaupun bangsa ayam yang digunakan sama genetiknya, tetapi mendapat perlakuan berbeda hasilnya akan berbeda pula. Perbedaan berat dan panjang organ-organ pencernaan untuk ayam A dan ayam B berbeda disebabkan beberapa faktor antara lain umur ayam, ukuran ayam, strain ayam dan jenis pakan yang diberikan pada ayam.

 

 

 

Sistem Reproduksi Ayam Betina

 

Anatomi saluran reproduksi ayam betina terdiri atas 2 organ utama yaitu ovarium dan oviduk.

Ovarium. Ovarium merupakan tempat penghasil gamet betina dan pembentukan kuning telur. Pada unggas ovarium disebut folikel. Bentuknya seperti buah anggur. Panjang ovarium menurut Yuwanta (2004) adalah 7 cm, sedangkan pada hasil pengamatan didapat berat ovarium ayam A adalah 6 gram dan ayam B 11 gram. Pada ayam A ovariumnya lebih ringan jika dibandingkan dengan ayam B, ini dimungkinkan karena ayam yang digunakan dalam praktikum merupakan ayam afkir sehingga ovarium ayam tersebut sudah tidak dapat berkembang.

Letak ovarium berada diujung cranial ginjal dan agak ke kiri dari garis tengah daerah sumblumbal cavum dadominalisi dan tergantung pada dinding dorsal abdomen oleh suatu lipatan peritoneum (Nalbandov, 1990). Ovarium ayam betina biasanya terdiri dari 5-6 follikel yang sedang berkembang, berwarna kuning besar (yolk) dan sejumlah besar follikel putih kecil yang menunjukkan sebagai kuning telur yang belum dewasa. Sistem reproduksi betina berfungsi pertama-tama melalui stimulasi hormon FSH dari pituitari anterior, yang menyebabkan terjadinya perkembangan folikel-folikel yang telah dewasa (yolk).

Hipothalamus mencerminkan peranan pokok dalam pengaturan fungsi ovarium. Fungsi ovarium pada ayam betina tergantung dari informasi neuroendokrin yang disampaikan ke ovarium dari hipothalamus dan kelenjar pituitari dan juga diantara jaringan-jaringan dari ovariumnya. Liver berperan dalam deposisi kuning telur dan kelenjar adrenal berperan dalam mengontrol fungsi ovarium, interaksi diantara jaringan ini dibutuhkan untuk mengkoordinasi kumpulan yolk dan mempersiapkan folikel terbesar untuk ovulasi (Etches, 1996).

Menurut Toliehere (1981) berat ovarium naik dari 0,02 gr pada waktu penetasan sampai 40 gr pada waktu pubertas, juga dinyatakan bahwa berat ovarium pada ayam dewasa yang sedang bertelur adalah 40-60 gr.

Pada waktu dewasa kelamin ovarium berkembang dengan cepat dari 0,4 gr menjadi 2.0 gr dan dalam waktu yang relatif singkat membesar secara intensif menjadi 40-60 gr karena pengaruh hormon LH dengan jumlah folikel yang banyak, folikel berkembang mulai dari 4-6 butir karena pengaruh dari sekresi FSH (Sidadolog, 1999).

Blakely dan Bade (1994), menyatakan bahwa ovarium ayam petelur mengandung 1000-3000 folikel dengan ukuran yang relatif atau sangat bervariasi dari ukuran mikroskopik sampai 1 kuning telur.

Menurut Hoekins dan Mac Carmack (1995), ovarium ayam petelur berisi suatu hirarkhi yang terdiri dari 5-7 folikel kuning besar yang berdiameter >8 mm.

Sebelum produksi telur, ovarium terisi penuh oleh folikel yang mengandung ova. Beberapa ova cukup besar sehingga cepat dilihat dengan mata. Beberapa ribu ova terdapat pada setiap ayam betina. Saat dewasa, ova menjadi kuning telur yang berukuran penuh dan berperan penting untuk produksi telur selama ayam hidup.

Infundibulum. Infundibulum adalah bagian teratas dari oviduk dan mempunyai panjang sekitar 9 cm (Frandson, 1992)  Fungsi infundibulum adalah menagkap ovum (yolk) dan tempat terjadinya fertilisasi. Pada infundibulum terdapat lubang ostium abdominale yang berfungsi untuk menangkap ovum yang telah masak. Panjang infundibulum menurut Suprijatna et al., adalah 9 cm, sedangkan pada hasil pengamatan didapat panjang infundibulum untuk ayam A adalah 5 cm dengan berat 1 gr dan ayam B 12 cm dengan berat 1 gram. Terjadi sedikit perbedaan antara panjang infundibulum ayam B dengan kisaran normal hal ini terjadi perbedaan genetik ayam yang digunakan.

Untuk berfungsi secara sempurna, infundibulum harus mengambil semua yolk yang jatuh ke dalam rongga tubuh. Kadang-kadang kemampuan infundibulum untuk menangkap sebagian besar yolk hilang dan menimbunnya dalam rongga tubuh lebih cepat daripada kemampuannya menyerap. Pada bagian leher infundibulum yang merupakan bagian klasifikator juga merupakan tempat penyimpanan sperma, sperma juga tersimpan pada bagian pertemuan antara uterus dan vagina.penyimpanan ini terjadi pada saat kopulasi hingga saat fertilisasi (Franndson, 1992).

Magnum. Magnum tesusun dari glandula tubuler yang sangat sensibel. Mukosa dari magnum tesusun dari sel gobelet yang berfungsi dalam mensekresikan putih telur kental dan cair. Panjang magnum menurut Yuwanta, 2004 adalah 33 cm, sedangkan pada hasil praktikum didapat panjang atau ukuran magnum ayam A adalah 27 cm dan pada ayam B 30cm. Magnum merupakan bagian terpanjang dari oviduct. Terdapat perbedaan antara kisaran normal dengan data hasil praktikum yang disebabkan aleh perbedaan umur, faktor genetik, produksi telur yang telah dihasilkan, jadi dimungkinkan bahwa ayam B yang memiliki panjang magnum yang relatif panjang sehinnga produksi telurnya tinggi.

Magnum adalah bagian oviduk yang mensekresikan albumin yanpanjangnya sekitar 13 inchi (33cm). Diperlukan waktu sekitar 3 jam bagi telur yang sedang berkembang  untuk melalui magnum. Albumin pada sebutir telur terdiri dari 4 lapisan. Masing-masing adalah chalazae (27.0 %), putih kental (57.0 %), putih telur encer (17.3%) dan putih telur encer bagian luar 23.0%). Keempat lapisan tersebut diproduksi pada magnum, tetapi putih telur encer luar (outer thin white) tidak lengkap sampai air ditambahkan di uterus (Suprijatna et al, 2005).

Isthmus. Isthmus merupakan tempat pembentukan kerabang tipis dan tempat terjadi plumping, kandungan pada masa ini tidak secara lengkap mengisi membran kerabang dan telur menyerupai sebuah kantung hanya sebagian yang terisi air. Menurut kisaran normal panjang ishtmus adalah 10 cm, (Suprijatna et al, 2005). Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum didapat hasil untuk ayam A adalah 18 cm dan ayam B adalah 9 cm. Pada ayam A berada di atas kisaran normal hal ini disebabkan karena faktor umur dan produksi telur.

Uterus. Uterus merupakan kelenjar kerabang yang utama. Uterus disebut juga glandula kerabang telur, panjangnya 10 cm (Frandson, 1992)  Pada ayam yang berproduksi panjangnya 4,0-4,7 inchi (10-12 cm). Telur yang berkembang tinggal di uterus sekitar 18-20 jam, lebih lama daripada dibagian lain dari oviduk (Suprijatna et al, 2005). Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum didapat hasil pada ayam A yaitu 4 cm dan pada ayam B yaitu 6 cm. Perbedaan ukuran uterus pada hasil pengamatan dengan kisaran normal disebabkan faktor umur, faktor genetic dan tingkat produksi telur.

Putih telur encer bagian luar (outer thin white) ditimbun setelah membran kerabang. Apabila telur pertama mauk ke uterus, air dan garam-garam ditambahkan melalui membran kerbang dengan proses osmosis sehingga menebalkan dan menempel pada membran kerabang.

Vagina. Pada ayam, skema produksi telur panjang vagina sekitar 4,7 inchi (12 cm). Disini, kutikula ditimbun pada kerabang untuk mengisi sebagian pori-pori kerabang. Secara normal, telur tinggal dalam vagina selama beberapa menit, tetapi dalam keadaan tertentu dapat tinggal beberapa jam (Suprijatna et al, 2005). Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum didapat hasil pada ayam A yaitu 8 cm dengan berat 4 gram dan pada ayam B yaitu 2,5 cm dengan berat 2 gram. Terjadi perbedaan yang sangat signifikan antara hasil pengamatan dengan kisaran normal karena faktor genetic, umur dan bisa dimungkinkan  ketidaktepatan pada bagian vagina yang diukur.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Akoso, B. T. 1998. Kesehatan Unggas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

 

Campbell, N. A. 2004. biologi Edisi ke 5 Jilid III. Erlangga. Jakarta.

 

Blakely,J.and D.H.Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi ke- 4. UGM Perss. Yogyakarta.

 

Blakely,J.and D.H.Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi ke- 4. UGM Perss. Yogyakarta.

 

Etches, R.T. 1996. Reproduction in Poultry. Cab. International. Departement of Animal and poultry science. University Guelph. Ontaniu. Canada.

 

Fadhilah, Roni. 2005. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Agromedia Pustaka. Tangerang.

 

Fadhilah, Roni, Agustin Polana, Syamsirul Alam, Eko Parwanto, 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Agromedia Pustaka. Tangerang.

 

Frandson. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Collage of Veteraning Medicine Colorado State University fort calling, New York.

 

Hoeking,P.M.and H.A. Mecormack.1995. Defferential University of ovenia follicles to suncdotrophin stimulation in broiter and layer lines of domestic folw. J.of reprod and Fert.105:45-55.

 

Morens,R.E and J.S. Avens. 1985. Poultry Science and Production. Restonpublishins company Inc., Reston,Virginia.

 

Nalbandov,A.V. 1990. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. UGM Press Yogyakarta.

 

Sidadolog, J.H.P. 1999. manajemen Ternak Unggas. Lab. Ternak Unggas Jurusan Prodiksi Ternak. Fak. Peternakan.UGM Yogyakarta.

 

Suprijatna,E.,U. Atmosnarsono dan R. Kartosidjono. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Swenson, M.J. 1993. Duke’s Physiology of domestic Animal. Eleventh Edition. Ithaca, Cornell University Press.

 

Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: